Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2010

Semangat Abraham Lincoln


Di bawah ini ada sebuah daftar kegagalan dari orang yang semasa hidupnya mengalami banyak tantangan dan badai.

1831 - ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya.

1832 -
ia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal

1833
- ia kembali menderita kebangkrutan

1835
- istrinya meninggal dunia

1836
- ia menderita tekanan mental sedemikian rupa, sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa

1837
- ia menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato

1840
- ia gagal dalam pemilihan anggota Senat Amerika Serikat

1842
- ia menderita kekalahan untuk duduk di dalam konggres Amerika

1848
- ia kalah lagi di konggres

1855
- ia gagal lagi di senat

1856
- ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden

1858
- ia kalah lagi di senat

1860
- ia akhirnya menjadi presiden Amerika Serikat

Siapakah dia? Namanya ialah Abraham Lincoln

Kalau orang lain yang mengalami demikian banyak kegagalan mungkin ia sudah mundur secara teratur. Tetapi Lincoln maju terus, kata mundur sama sekali tidak ada di otaknya. Akibatnya ia kemudian mencapai suatu sukses yang luar biasa.

Jumat, 01 Oktober 2010

Janji
oleh BUNDA PENOLONG ABADI pada 27 September 2010 jam 23:11
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, ”berapa lama lagi kamu baca koran itu? tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.” Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanyabanjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak ,nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.” Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidakhanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta…” agak ragu2 sejenak… “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab,“Oh pasti sayang”.
Sindu tanya sekali lagi,“betul nih ayah?”
“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yangmemaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya,dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakinpada hari Minggu. Istriku spontan berkata, “permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidakmungkin!” Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, “tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaankami.” Sindu dengan menangis berkata, “ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala )untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknyasendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “apakah aku sudah gila?” “Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.”
“Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “anak anda ,Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anaksaya, dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

Minggu, 03 Januari 2010

Dalam tiap kesulitan terdapat kemudahan

Benarkah Dalam Setiap Kesulitan Terdapat Kemudahan?

Salah satu pelajaran penting yang disampaikan guru mengaji saya adalah firman Tuhan yang berbunyi; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Bagi saya, ini adalah firman yang sangat motivatif. Dia menguatkan kita saat menghadapi situasi sulit. Dan karena tak seorangpun dimuka bumi ini yang terbebas dari kesulitan hidup, maka sesungguhnya firman itu merupakan penghiburan bagi semua orang. Dengan firman itu, seolah Tuhan memberikan penegasan kepada kita semua bahwa kesulitan pasti akan datang. Namun, tak satupun dari kesulitan itu yang tidak memiliki kemudahan. Lantas, saya pribadi bertanya-tanya; ”apakah kemudahan itu ada ’setelah’ kesulitan berakhir, atau memang Tuhan bermaksud mengatakan bahwa kemudahan itu ada ’didalam’ kesulitan? ”

Untuk alasan kepraktisan, sebenarnya saya lebih suka membeli beras dalam kemasan karung. Selain tidak perlu bolak-balik ke warung dua hari sekali, membeli beras karungan juga memberi saya bonus berupa karung yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Namun, ada satu hal yang sangat tidak saya sukai, yaitu sulit sekali membuka tali simpul yang mengikat karung itu. Kadang-kadang saya harus menggunakan garpu atau tusuk gigi sebagai alat pengait untuk mengurai simpulnya satu demi satu. Tak jarang saya menjadi sangat kesal, lalu menggunakan pisau untuk merobek bagian atas karung itu agar bisa mengeluarkan berasnya. Oleh karena itu saya lebih sering membeli beras dalam kemasan kantung plastik. Isinya sedikit, tapi gampang membukanya. Memang, ini hanya soal pilihan. Apakah saya akan memilih karungan atau plastikan. Kira-kira demikian.

Sama halnya dengan hidup kita. Ketika kita memutuskan untuk memilih tentu kita memiliki alasan yang membuat kita berpikir bahwa jalan hidup itulah yang paling kita inginkan. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Dalam konteks ini berupa kesulitan dan kepedihan saat kita menjalaninya. Dalam banyak situasi, kita boleh memilih untuk mengerjakan hal-hal yang mudah; tetapi, biasanya hasilnya tidak terlampau berarti. Pekerjaan mudah yang kita lakukan itu tidak memberi dampak yang bermakna bagi perusahaan atau diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita memilih untuk melakukan sebuah project yang besar lagi rumit, mungkin hasilnya akan banyak. Namun, untuk menyelesaikannya kita harus bersedia menjalani lika-liku yang teramat sulit dan penuh rasa sakit.

Suatu ketika, saya kembali tergoda untuk membeli beras dalam karung. Disaat rasa putus asa hampir memenuhi ubun-ubun; secara tidak sengaja saya menarik ujung tali simpul dibagian lain dari pengikat karung itu. Ajaib sekali, ketika ujung tali itu ditarik; srrrrrrrrrreeeeeeet…..kesuluruhan tali simpul pengikat itu terlepas dengan begitu mudahnya! Sungguh, dengan cara itu hampir tidak ada tenaga yang terbuang. Dengan cara lama, saya harus sampai berkeringat dan menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit untuk membuka simpul demi simpul yang ada. Tetapi, ketika ujung tali ajaib itu ditemukan, saya cukup menariknya nyaris tanpa tenaga, dan hanya butuh waktu kurang dari 3 detik untuk membuka karung itu. Lebih dari itu, karung berasnya pun utuh tidak kurang satu apapun.

Jika anda belum tahu tentang rahasia simpul karung beras ini; anda harus mencoba menemukan keajaibannya. Karena, simpul karung beras memberitahu kita sebuah rahasia yang selama ini sering kita ragukan, yaitu; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Karung beras ini berhasil mengubah paradigma lama saya. Semula, saya mengira bahwa: kalau kita mau bersabar dalam kesulitan, maka ’diakhir’ perjalanan kita akan sampai kepada sebuah kemudahan. Sehingga, selama ini saya berfokus kepada usaha ’menguatkan diri’ untuk menempuh jalan sulit itu dengan sabar dan tabah, hingga saya bisa bertahan untuk tiba diakhir yang menyenangkan. Seperti memanjat gunung tinggi; jika kita bisa terus beranjak naik, kita akan sampai juga kepuncak tertinggi.

Sebaliknya, tali itu dengan gamblang menunjukkan bahwa kita tidak harus membuka satu demi satu simpul yang sulit itu terlebih dahulu untuk bisa membuka keseluruhan simpul karung. Justru, dia memperlihatkan bahwa ada cara yang sangat mudah yang tersembunyi dibalik setiap simpul yang sulit diurai itu. Tugas kita adalah untuk menemukan kemudahan itu tanpa harus mengurainya satu demi satu terlebih dahulu.

Barangkali, hidup juga memang demikian adanya. Itulah sebabnya, mengapa begitu banyak orang yang menderita dalam menjalani hidupnya. Seolah mereka berpindah dari satu kesulitan hidup, kepada kesulitan hidup yang lain. Namun, pada situasi yang sama; ada banyak orang yang bisa menjalaninya dengan begitu mudahnya. Seolah mereka selalu bisa menemukan jalan keluar dari setiap persoalan hidup yang menghadangnya. Ada apa ini sebenarnya? Barangkali, itu terjadi karena kita belum benar-benar memahami apa yang Tuhan isyaratkan dalam firmanNya; ”Sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, terdapat kemudahan.” Andai saja kita bisa menemukan simpul rahasia untuk mengurai belitan-belitan kesulitan hidup itu; mungkin kita bisa menjalaninya dengan teramat sangat mudah. Tidak peduli sesulit apa situasinya.

Sekarang, setiap kali saya membeli beras dalam karung; saya tidak pernah takut lagi akan kesulitan saat membuka tali simpul karung itu. Sebab, saya percaya bahwa pabrik yang membuat kemasan karung beras itu telah memasang tali simpul sedemikian rupa sehingga tali itu akan sulit untuk dibuka; supaya isi karung tidak mudah bertumpah ruah. Namun pada saat yang sama, ada sebuah titik rahasia yang bisa digunakan untuk membuka ’keseluruhan’ tali simpul itu dengan teramat mudahnya. Tetapi, hanya orang yang tahu cara membukanya dengan benar sajalah yang dapat mengurainya dengan begitu mudah. Sehingga dia tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali saat membuka karungnya.

Untuk menjalani hidup, barangkali juga demikian; kita tidak perlu takut lagi akan kesulitan saat membuka simpul-simpulnya. Sebab, kita percaya bahwa Sang pencipta kehidupan itu telah memasang tali simpul sedemikian rupa sehingga tali itu akan sulit untuk dibuka. Tujuannya supaya makna kehidupan itu tidak mudah bertumpah ruah. Namun pada saat yang sama, ada sebuah titik rahasia yang bisa digunakan untuk membuka ’keseluruhan’ tali simpul itu dengan teramat mudahnya. Tetapi, hanya orang yang tahu cara menjalaninya dengan benar sajalah yang dapat mengurainya dengan begitu mudah. Sehingga dia tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali saat menjalani hidupnya.

Saatnya bagi kita untuk meninggalkan paradigma bahwa kemudahan akan datang setelah kesulitan. Karena jika demikian; berarti kita harus menjalani setiap episode sulit itu hingga habis terlebih dahulu sebelum mendapatkan kemudahan. Jika umur kita tidak cukup panjang, mungkin kita tidak akan pernah sampai pada kemudahan itu. Sehingga seluruh hidup kita dijalani dalam kesulitan. Sebaliknya, mari kita gunakan paradigma baru bahwa; kemudahan itu berada didalam kesulitan. Jadi, setiap kali kita menghadapi kesulitan, yakinlah bahwa kemudahan ada didalamnya. Sehingga, kita mempunyai kesempatan untuk menemukan simpul kemudahan didalamnya, agar bisa keluar dari kesulitan itu; sesegera mungkin. Lebih dari itu, kita bisa selalu berbaik sangka kepada Tuhan; atas segala hal yang telah Dia takdirkan.

dari : Kang Dadang Kadarusman