Tampilkan postingan dengan label Bisnis Clip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Clip. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Budi, Orang TI yang Jadi Pengusaha Kapal

Dimuat di Majalah SWA yang terbit pada Senin, 04 Juni 2007
Oleh: Eva Martha Rahayu/Wini Angraeni

Bermula dari kegemaran mengutak-atik kapal motor sendiri, kini Budi Suchaeri menjadi pengusaha kapal. Dengan modal Rp 1 miliar, pada akhir 2004 ia mengibarkan bendera PT Carita Boat Indonesia (CBI) untuk memproduksi kapal kecil dan besar guna memenuhi order pasar dalam negeri dan mancanegara.

“Saya mulai dari yang kecil-kecil. Karena saya orang TI, ada teknologi, banyak software, kemudian mendesain basic-basic kapal. Awalnya, tidak terpikir jualan,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 5 Maret 1964, yang gemar membaca ini. Tak disangka, beberapa temannya menyukai kapal hasil kreativitasnya, sehingga minta dibuatkan.

Karena order terus mengalir, Budi ingin lebih serius menekuni dunia kapal. Untuk itu, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya di PriceWaterhouse Cooper yang sudah dilakoninya selama 15 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Manajer Teknologi Global. Awalnya, keputusan itu disayangkan teman-temannya, karena prospek bisnis kapal mereka nilai mereka kurang menjanjikan.

Namun, Budi tidak mundur. Pada 2002 ia mulai melakukan beberapa kali presentasi kepada calon pembeli perorangan dan pemerintah daerah. Tidak sia-sia. Pada 2003 pengusaha Probosutedjo memintanya dibuatkan kapal latih perikanan untuk sekolah perikanan di daerah Labuan, Banten.

Kini selain kapal-kapal nelayan kecil bercadik yang modern, kapal patroli, kapal pesiar dan kapal latih perikanan, CBI juga membuat kapal penumpang dan kapal wisata. Lebih dari 500 kapal sudah dibuatnya. Tahun 2006 saja ada sekitar 300 kapal yang diproduksi. Bahkan, pada 2007 CBI mendapat order dari Belanda untuk mengerjakan kapal pesiar.

Menurut Budi, pesanan kapal 90% dari tender, sisanya pesanan pribadi dari teman dan kenalan. Tender pertama kali di Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) tahun 2005. Kala itu ia memenangi tender kapal latih kelas 60 ton sebanyak dua unit. Hebatnya, meski pemain baru, Budi mengklaim CBI sering menang tender di antara 7 perusahaan sejenis yang lebih senior. Apa rahasianya? “Sebelumnya, saya profesional di PWC. Jadi, kami kemas secara profesional dan impresif, sehingga calon pembeli tertarik,” katanya menjelaskan.

Budi pun mengaku sangat selektif mengikuti tender. Ia hanya memprioritaskan tender untuk pembuatan kapal-kapal yang bergengsi dan tingkat kesulitannya tinggi. Dengan persiapan maksimal, ia mesti yakin tender itu bakal dimenangi. Lagi pula, CBI diakui Budi kuat dalam SDM dan penguasaan teknis. “Dari jumlah tenaga kerja, kami yang paling banyak saat ini, mulai level biasa hingga doktor,” ujar lulusan Jurusan Teknik Informatika Universitas Budi Luhur, Jakarta ini. Dari sisi harga, ia menegaskan, “Saya tidak suka tender yang perang harga.” Sebab, menurutnya, ada beberapa perusahaan yang menjatuhkan harga dengan tujuan menang tender, sementara kualitas agak diturunkan.

Harga kapal yang dibanderol CBI beragam, Rp 30 juta-7 miliar/unit. Biasanya order paling banyak jenis kapal kecil berharga Rp 75 juta kelas 3 ton. Kapal ini dipakai untuk nelayan di seluruh Indonesia (Bali, Serdang Bedagai, Sibolga, Aceh, Papua).

Lokasi produksi kapal CBI bersifat fleksibel. Bisa di bengkel kerja CBI di Taman Tekno BSD, Tangerang, di galangan kapal Pantai Carita-Banten, atau di tempat klien. Waktu pengerjaan satu unit kapal 3-7 bulan. Di sana ada 200 karyawan yang terlibat dalam proses produksinya. Kadang untuk pesanan kapal yang tingkat kesulitannya tinggi, CBI juga bekerja sama dengan institusi lain, seperti Institut Teknologi Bandung, dan mendatangkan pakar. Misalnya, sekarang CBI mengerjakan pesanan kapal terbang dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Kapal jenis ini baru pertama kali akan dibuat di Indonesia. Kapal terbang ini murah, cepat, perawatannya mudah, tidak perlu pilot untuk menerbangkannya (cukup kapten kapal biasa), dan sangat cocok untuk Indonesia yang habitatnya laut.

Beberapa kapal buatan CBI dinilai Budi cukup membanggakan. Di antaranya, kapal latih 90-100 ton pesanan DKP, kapal api terbesar untuk sekolah perikanan di Tegal, kapal pesiar terbesar di Indonesia dengan panjang 28 meter yang diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (2006) sebagai kapal wisata Sungai Musi, Palembang. Namanya, K.M. Putri Kembang Dadar yang mampu mengangkut maksimal 150 penumpang.

Kapal-kapal besar, diakui Budi, value-nya besar, sehingga signifikan memberikan kontribusi income. Asal tahu saja, omset CBI tahun pertama (2005) sebesar Rp 20 miliar, tahun 2006 naik menjadi Rp 30 miliar.

Uniknya, meski omset menanjak, strategi promosi CBI masih konservatif. Pasalnya, hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. “Maklum, pembeli kapal orangnya itu-itu saja dan pemainnya juga tidak banyak,” tutur Budi mengungkapkan alasannya.

Untuk pengembangan ke depan, Budi berencana membagi bisnisnya ke beberapa divisi. Ada divisi produksi kapal sangat umum, kapal biasa-biasa saja, kapal dengan tingkat kesulitan rendah, serta kapal berteknologi tinggi. “Sampai akhir tahun ini kami masih fokus mengerjakan tiga unit order kapal terbang,” ujarnya seraya menyebut klien korporatnya, antara lain PT Inco, Freeport, Barwil dan Nation Petroleum. Selain itu, ia menegaskan, untuk membuat kapal bermutu harus ada idealisme, selain menguasai teknik kapal dan punya integritas dalam bisnis yang digeluti.

Soal bagusnya mutu kapal CBI, dibenarkan kliennya. Ramli, pelatih di DKP, mengatakan bahwa pada 2006 pihaknya memesan satu unit kapal latih nelayan. “Yang membuat CBI menang tender waktu itu, ya karena kualitas garapan kapalnya halus,” tuturnya. Harganya pun dia anggap lebih murah.

 

Jumat, 01 Oktober 2010

Tanggung Jawab Spiritual dan Sukses Bisnis
Diambil dari : http://web.bisnis.com/kolom/2id1595.html
Jumat, 10/10/2008 11:19 WIB
Tanggung jawab spiritual dan sukses bisnis
oleh : A. M. Lilik AgungMitra Pengelola High Leap Consulting, praktisi bisnis

Sosok bernama Julius Tahija telah menjadi manusia paripurna. Sebagai warga negara, Julius Tahija menunjukkan dedikasi luar biasa melalui karir militernya dengan terjun langsung dalam perang merebut kemerdekaan, dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.
Sebagai profesional bisnis, karirnya melesat jauh menembus labirin-labirin yang kelihatannya tak mungkin dikoyak dijamannya. Dia orang pribumi pertama yang memimpin langsung Caltex Pasific Indonesia.
Sebagai pengusaha, Julius mampu membiakkan bisnisnya menjadi raksasa yang disegani. Walaupun bisnisnya bukan terbesar dibidangnya, namun selalu dijadikan model tentang bagaimana menjalankan bisnis dengan benar dan berbasis pada aturan-aturan.
Tidak banyak orang tahu Austindo Group. Di bawah payung Austindo bercokol banyak perusahaan dengan empat lini usaha, yaitu jasa finansial, minyak sawit, rumah sakit, dan lainnya. Usaha dalam lini lainnya di antaranya geotermal, tobacco, power, dan resources.
Inilah kerajaan bisnis yang dibangun oleh Julius Tahija dan sekarang dipegang oleh dua orang anaknya. Di luar Austindo Group, Julius Tahija adalah pemilik Bank Niaga sebelum bank ini kena dampak krisis ekonomi 1998.
Menarik ketika pada saat bersamaan di tahun 70-an Julius membangun bisnis sendiri dan tenaganya masih diperlukan di Caltex dan Freeport. Dengan cakupan bisnis pada berbagai sektor strategis, sebenarnya pantas bila group bisnis yang dimiliki Julius Tahija melakukan kerjasama dengan Caltex dan Freeport.
Di samping bisnis pribadi Julius Tahija dijalankan dengan sangat profesional, kekuasaan jabatannya di Caltex dan Freeport memungkinkan berkongsi. Namun tindakan Tahija sudah jauh melampaui jamannya. Setiap perusahaan milik Tahija diberi instruksi keras baik lisan maupun tertulis untuk tidak mengadakan transaksi dengan Caltex atau Freeport selagi Tahija menjadi eksekutif di sana.
Prinsip bisnis
Ada beberapa prinsip bisnis yang dipegang teguh oleh Julius Tahija, baik ketika menjadi profesional ataupun menjalankan bisnis pribadi. Prinsip bisnis ini merupakan pengembangan dari etika bisnis China.
Tiga yang utama dan sangat relevan untuk kondisi kekinian bisnis di tanah air adalah, pertama, lunasi seluruh utang tepat pada waktunya. Inti dari prinsip ini sebenarnya sederhana; kepercayaan. Dalam berbisnis ketepatan membayar utang merupakan jaminan kepercayaan. Jika tertib dalam melunasi utang, dapat dikatakan perilaku pebisnis ini juga tertib dalam melayani pelanggan, tertib dalam memproduksi barang yang tidak membahayakan, tertib untuk membayar pajak dan ujungnya tertib untuk menjaga kepercayaan.
Kedua, untuk menjalin hubungan kerja yang diperlukan hanya jabat tangan. Kata-kata merupakan satu-satunya sumber kepercayaan yang harus dipegang. Kontrak bisnis memang perlu. Namun tetap di atas kontrak bisnis adalah kata-kata. Banyaknya kasus bisnis di negeri ini sebagian besar karena melanggar kata-kata yang disepakati. Tumpukan kontrak bisnis dengan menyewa pengacara alhasil hanya memperpanjang masalah yang justru menurunkan produktivitas bisnis.
Ketiga, yang boleh dibelanjakan hanyalah uang yang benar-benar sudah sah sebagai hasil keringat. Dari pengertian ini menurut Tahija uang hasil korupsi, pat gulipat, kongsi hitam dan suap jelas tidak layak untuk mengembangkan bisnis. Ataupun jika dipergunakan untuk berbisnis dipastikan bisnis demikian hanya berjangka waktu pendek dengan orientasi sesaat dan untuk tujuan hitam.
Dalam pengertian umum ada tiga peran dari seorang pemimpin, yaitu manajerial, etikal dan spiritual (Jansen Sinamo, 2004). Peran manajerial merupakan peran yang harus dilakonkan pemimpin untuk mengelola bisnisnya sesuai dengan kaidah manajemen kontemporer.
Dalam peran ini mengelola proses bisnis dari mulai perencanaan, eksekusi hingga evaluasi menjadi tanggung jawab pemimpin. Pendekatan keuangan, pemasaran, operasional, sumber daya manusia dan teknologi benar-benar harus dijalankan pemimpin.
Dalam peran manajerial, kepemimpinan Julius Tahija layak diacungi jempol. Bank Niaga bisa menjadi contoh kasus. Inilah bank pertama di negeri ini yang menjalankan prinsip pengelolaan perbankan dengan pendekatan modern.
Tidak tanggung-tanggung, yang dijadikan mitra untuk menjalankan operasional bisnis adalah Citibank. Tka tidak mengherankan bila dari rahim Bank Niaga lahir bankir-bankir profesional yang mempengaruhi hitam putihnya dunia perbankan di tanah air, seperti sosok Robby Djohan, Agus Martowardoyo, Peter B Stok, Winny Hasan, dan Arwin Rasyid.
Peran etikal berbeda dengan peran manajerial. Peran ini lebih pada cara pengamalan nilai-nilai etis berbisnis. Atau jika menggunakan bahasa bisnis kontemporer, peran etikal adalah peran pemimpin dalam menterjemahkan budaya perusahaan ke dalam perilaku seluruh warga organisasi.
Budaya Austindo Group yang dikembangkan bersumber pada prinsip bisnis yang diyakini oleh Julius Tahija. Kompetensi inti organisasi ataupun seluruh karyawan Austindo Group harus bermuara pada prinsip bisnis tersebut.
i sinilah evaluasi paling sempurna seorang pemimpin layak disebut menjalankan peran etikalnya. Walaupun sudah meninggal dan roda bisnis sudah berganti ke generasi kedua, kita tidak pernah mendengar Austindo Group berurusan dengan aparat penegak hukum karena, katakanlah melakukan suap atau ngemplang utang.
Peran spiritual menukik pada pemaknaan berbisnis. Dalam peran ini idiom bernama damai, cinta, kasih, pelayanan, dan ibadah menjadi ekspresi pemimpin untuk menjalankan bisnisnya sekaligus memperlakukan karyawannya.
Oleh Julius Tahija peran spiritual tidak berhenti pada kata-kata semata. Pribadi Julius Tahija yang sangat disegani, baik di dalam maupun luar negeri membuktikan bagaimana peran spiritual dijalankan tanpa retorika. Alangkah indahnya negeri ini bila para pemimpin (bisnis, lebih lagi politik) mengikuti jejak kepemimpinan Julius Tahija.
diposkan oleh Lilik Agung @ 19:10
From: apakabar@clark.net
Date: Thu May 29 1997 - 13:56:00 EDT
________________________________________